HOUSEOFJOY - Band Tanpa Restu, Gak Ada yang Nunggu Mereka Jalan Duluan
HOUSEOFJOY - Band Tanpa Restu, Gak Ada yang Nunggu Mereka Jalan Duluan
Padahal, di balik lagu itu ada darah, ada cerita. Kadang, bahkan ada nyawa yang sempat nyaris ilang karena tekanan. Dan ini bukan cerita fiksi. Ini kisah nyata. Ini cerita tentang sebuah band Indonesia bernama HOUSEOFJOY dan seorang manusia bernama Dymaz Redric, yang lebih milih hidup bareng musiknya daripada mati pelan-pelan ditelan sistem.
Dari Sirkel 20 Orang ke Kesunyian yang Menyiksa
HOUSEOFJOY awalnya bukan band kecil. Dulu mereka punya sirkel yang cukup besar teman nongkrong, support system, tim produksi, bahkan pasangan.
Semuanya solid. Semua percaya visi yang sama.
Tapi ketika idealisme diuji, satu per satu mundur.
Bukan karena musiknya jelek. Tapi karena jalan ini terlalu berat buat ditempuh setengah hati.
Pas formasi awal bubar, Dymaz ditinggal sendiri.
Dan bukan cuma kehilangan rekan musik. Dia juga kehilangan sahabat, pacar, bahkan pekerjaannya sekaligus semua terjadi di akhir bulan 2023.
Bayangin: dari yang tadinya dikelilingi 20an orang, tiba-tiba cuma ada empat - lima.
Kadang, gak ada sama sekali.
Tapi dia gak berhenti. Karena buat Dymaz, musik bukan cuma karya. Musik adalah sisa-sisa kewarasan yang dia punya.
Musik bukan pilihan, tapi jalan hidup yang udah gak bisa ditawar.
Semua Dikerjain Sendiri. Karena Gak Ada Pilihan.
Di formasi 2023–2024, Dymaz ngelakuin hampir semua sendiri.
Synth? Dia
Bass Awal Album? Dia.
Keyboard Album Awal? Dia.
Vokal? Dia.
Lead Gitar? Dia.
Rhytm Gitar? Dia.
Sampling? Dia.
Drum Album Awal? Dia.
Beat Electronic Awal? Dia.
Produksi, mixing, mastering? Semua tangan dia.
Bikin visual, distribusi, promosi? Tetap dia.
Bahkan di awal-awal, pola drum dan bass pun digambar manual karena belum ada pemain.
Dia juga jadi produser buat artis di labelnya sendiri, Kamartengahrecords, sambil kerja di toko retail buat nyambung hidup. Waktu itu, satu-satunya yang bantu cuma Iyan dengan kontribusi vokal rap, Layering Bass Sub 808 di bbrp lagu (yg waktu pada saat itu dia baru coba2 bikin layer sub bass), juga beberapa lirik. Sisanya, Dymaz angkat semua beban sendiri.
Bahkan, untuk bagian bass dan drum juga di beberapa lagu, dia minta tolong ke teman nongkrong-nya dulu yang dulu pernah main bareng di band cafe.
Iya, Dymaz pernah juga jadi pengamen/musisi di cafe, tapi cuma sebentar. Karena dia ngerasa:
“Gue gak bisa selamanya mainin lagu orang. Gue harus punya suara sendiri.
Pertemuan Takdir dengan Iyan
Namanya B.I.G Iyan. Mereka ternyata satu kota.
Sebelum gabung, Iyan sempat kolaborasi dulu di satu lagu.
Saat itu, Iyan hanya bisa ngerap dengan beat hasil download dari internet.
Dia gak ngerti produksi. Gak bisa main instrumen.
Gak paham sound design, VST, atau mixing.
Tapi Dymaz ngelihat potensi. Dia gak cuma ngajak kolab, tapi ngajarin Iyan semuanya dari nol.
Mulai dari main keyboard, sampai mikirin struktur lagu dan penjiwaan.
Maret 2024, Iyan resmi gabung jadi member HOUSEOFJOY.
Awalnya main keyboard, tapi dymas ngerasa dia gak cocok dan terlalu berat buat dia.
Akhirnya, di 2025 Dymaz minta dia pindah ke bass. Skrg Iyan Lagi Menjalani Proses Pembelajaran Pasca pemindahan posisi
Rizky: Drummer dari Facebook yang Bercita-cita Masuk Wikipedia
Tapi pertemuan mereka bukan dari audisi, bukan dari jalur koneksi.
Dymaz nemu dia di grup Facebook yang udah kayak kuburan digital. Grup yang bahkan admin-nya udah gak aktif. iya woi !! anak muda mana sekarang yang aktif nya di Facebook ? tapi kalo ga ada hal ini mereka kayak nya gak bakal ketemu si dan ini cukup keberentungan juga bisa di temukan dymaz dan rizky
Rizky punya mimpi sederhana tapi tajam:
“Gue pengen suatu hari nama gue ada di Wikipedia.”
Buat orang lain mungkin itu terdengar receh. Tapi buat anak daerah yang main drum sendirian di kamar, mimpi itu bisa jadi jangkar harapan.
Dan HOUSEOFJOY jadi kapal pertama yang dia tumpangi buat ngejar itu.
Sekarang Rizky bukan cuma pengisi drum. Dia bagian dari DNA musik mereka.
Dari nada paling pelan sampai ledakan paling liar, dia jadi mesin ritme yang bikin emosi HOUSEOFJOY tetap hidup.
Dan bahkan skrg dia kerja di Bali, dia tetap kirim pattern, draft, dan ide walau cuma lewat kirim2 an voice note dan DAW basis online. Karena kalau niat udah satu frekuensi, jarak gak ada artinya.
Realita: Jatuh, Bangun, dan Tetap Berjalan
Hidup mereka jauh dari stabil.
-
Rizky kerja serabutan di bali buat nyambung idup, ngidupin karya.
-
Dymaz kerja di toko retail buat ngidupin karya dan biaya nyambung idup.
-
Iyan kerja sembari kuliah, magang cari cuan dari event ke event. Juga terjebak di lingkaran Anak mama yang pasti susah untuk keluar malam colong2 an cari celah buat latian dan bikin lagu bareng karena di control penuh sama ortu di usia 20an.
Latihan? Susahnya minta ampun. Jadwal bentrok, ongkos mahal, alat musik seadanya. Tapi mereka tetap jalan. Tetap ngegas. Karena mereka tahu: gak ada panggung buat mereka kalau gak mereka bikin sendiri.
Sekarang mereka manggung di acara yang mereka atur sendiri, ngebuktiin kalau musik gak butuh izin buat hidup. Dan meskipun gak disambut di banyak tempat, mereka gak pernah berhenti.
Mereka gak cari restu. Mereka gak nungguin “lampu hijau” dari siapa pun. Karena mereka tahu, kalau lo gak pernah dianggap, lo bisa jadi ancaman diam-diam.
Belum lagi fakta bahwa mereka “dibanned secara tak resmi” dari skena musik kota sendiri.
Kenapa? Karena mereka beda.
Karena mereka berani. Karena mereka gak mau tunduk pada yang nyaman dan stagnan.
HOUSEOFJOY gak main aman. Mereka bisa kasar, bisa lembut, bisa ngenakin lagu, bisa absurd, bisa eksperimental.
Dan itu bikin takut banyak orang yang masih ingin skena tetap “rapih.”
Sampai ada yang bilang mereka mempermalukan nama kota sendiri.
Semua itu mereka telan. Tapi gak mereka telan mentah.
Mereka ubah jadi musik.
Gak Cari Validasi. Bikin Dunia Sendiri.
HOUSEOFJOY tahu satu hal:
Kalau lo gak bisa dapet tempat di sistem lama, lo bikin sistem baru.
Makanya mereka:
-
Rilis album debut berisi 24 lagu (gila).
-
Punya track avant-garde 11 menit.
-
Jual CD fisik satu-satu dari tangan ke tangan.
-
Pakai batik di panggung.
-
Gabungin Rock, Hiphop, R&B/soul, ambient, gamelan, bahkan noise dan eksperimental jadi satu. kalo simple nya ya mereka di genre indie rock tapi bukan indie rock biasa...
Dan anehnya: semua tetap bernafas.
Semua tetap jujur.
Dunia Belum Siap. Tapi Kami Udah.
Banyak lagu indie yang bagus-banget justru gak didengar karena terlalu jujur.
Terlalu mentah. Terlalu apa adanya.
Tapi justru karena itu, mereka penting.
HOUSEOFJOY gak ada buat ikut tren.
Mereka ada buat orang-orang kayak lo yang pernah invisible, pernah ditolak, pernah dianggap gak cocok. Kalau lo pernah ngerasa kayak lo harus pura-pura buat bisa diterima, lo bagian dari kami.
HOUSEOFJOY adalah musik yang lahir dari luka, bertahan dengan amarah, dan terus hidup karena gak ada pilihan lain.
Dan percaya, selama musik jujur masih ada, suara kita gak akan pernah hilang.
Kalau lo baca ini, lo gak cuma denger cerita.
Lo udah masuk ke dalamnya.
Dan semoga lo tinggal di sana sebentar.
Kita HOUSEOFJOY.
Dan ini baru permulaan.
Kalau lo pengen denger sendiri apa itu suara yang bukan dari pabrik musik,
🎧 silakan putar lagu kami.
Available on:
Spotify Page
Youtube Page
Apple Music
Bandcamp
📸 Follow & dukung perjalanan kami di:
Instagram Account
X (Twitter)
📀 Pre-order our physical CD here (so we can keep going):
https://linktr.ee/houseofjoyrockband
📢 Ceritakan ke teman lo.
Karena kita gak butuh banyak, kita cuma butuh yang paham.


Comments
Post a Comment